Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Desember 2011

Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu



Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya...?!”. Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah. Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya, Yah.”
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: "Ammaa. Apppaa." Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahmad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!” Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak,
“Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.
Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua,
“Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan.
Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia.
Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.
Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku.
Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, Alhamdulillah

SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat

Author : PercikanIman.org

Jumat, 28 November 2008

Ungkapan Jujur Seorang Anak

Dikutip Dari Tulisan Abu Tamam Di Forum myquran.org (3 November 2008)
Semoga bermanfaat, terutama bagi yg belum membacanya.

Untuk renungan para orangtua....

Ungkapan Jujur Seorang Anak

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:

"Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.

"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.

"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kami pun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu"
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"
Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ......",
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku"
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum"
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..."
Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus"
Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .."
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya. Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam lingkungan rumah.

Semoga bermanfaat, dan menghasil generasi anak2 yang lebih baik.

Kamis, 16 Oktober 2008

Hadiah Sesuai Ranking Yang Menyesatkan


Hadiah Sesuai Ranking Yang Menyesatkan. Sebuah kebiasaan yang kerap dilakukan banyak orang tua adalah memberikan hadiah kepada anak atas hasil nilai rapor yang mereka dapatkan. Semakin tinggi ranking yang diperoleh, semakin besar pula hadiahnya. Kebiasaan seperti ini menstandarkan pemberian hadiah kepada hasil belajar, bukan pada proses belajarnya.

Mari kita pahami kondisi ini. Satu anggapan salah yang sering digunakan adalah bahwa orang tua menganggap anak akan termotivasi untuk belajar dengan baik jika ada iming-iming hadiah untuk nilai akhirnya. Untuk tahap awal, cara memotivasi ini bisa jadi bermanfaat karena membuat anak belajar giat. Akan tetapi ketika hasil yang diperoleh ternyata tidak sesuai harapan, lebih rendah dari target, sehingga hadiah yang dijanjikan tidak diperoleh, maka anak akan menjadi kecewa. Ini karena anak terlanjur memendam harapan terhadap perolehan hadiah tersebut.

Perlu dipahami juga bahwa resiko anak untuk gagal memperoleh prestasi terbaik pun ternyata tidak kecil. Diperlukan perjuangan yang cukup berat bagi anak untuk memperoleh peringkat 5 besar. Saingan yang begitu banyak hingga bisa mencapai 40 anak untuk sekolah yang menerapkan kelas besar.

Bagi mereka yang tidak berhasil meraih ranking ini, selain harus menelan kesedihan karena tidak berhasil memperoleh hadiah, mereka masih harus menerima pengertian baru bahwa mereka termasuk anak yang tidak diharapkan oleh lingkungan karena tidak mampu memenuhi harapan orang-orang di sekitarnya. Ini mengancam kehancuran harga diri mereka.

Lantas, apakah salah jika orang tua dan guru memotivasi anak untuk berkompetisi menjadi yang terunggul di kelas dengan cara pemberian hadiah berdasar ranking ini? Jawabnya, memang salah. Ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan dan akan dibahas pada tulisan berikutnya.

Jadi, mulai sekarang, marilah kita hentikan pemberian hadiah berdasar ranking ini!

Jumat, 26 September 2008

Agar Anak Menerima Adiknya

Apa yang dialami anak ketika adiknya lahir? Perhatian yang tiba-tiba hilang, kebersamaan yang tiba-tiba lenyap dan kasih sayang yang tiba-tiba terenggut darinya.

Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar lahirnya adik menjadi kabar gembira bagi semua, terutama buat kakaknya. Beberapa catatan berikut insya Allah dapat kita pertimbangkan.


SEBELUM ADIK LAHIR

1. Kondisikan
Sejak ibu positif hamil, komunikasi sudah harus dimulai. Kabarkan kepada anak bahwa kelak, insya Allah ia akan punya adik. Saat ini juga, kondisikan anak untuk mulai menerima kehadiran anggota keluarga yang baru. Perlahan-lahan siapkan anak untuk lebih mandiri, sekaligus beri pujian bahwa ia sudah besar.

2. Asyiknya Punya Adik
Saat bayi dalam kandungan sudah bisa menendang-nendang perut ibu, pegangkan tangan anak ke perut ibu. Tunjukkan "yang lucu" padanya. katakan bahwa adiknya ingin mengajak kakaknya bermain-main bersama. Dari sini, sampaikan betapa asyiknya nanti kalau sudah punya adik, bisa bermain-main bersama. Dengan demikian, anak sudah mulai menunggu kelahiran adik. Anak mulai tumbuh rasa sayangnya sebelum adiknya lahir

3. Tumbuhkan Tanggungjawab Dan Kepercayaan
Usahakan untuk memiliki saat-saat berdua yang akrab dengan anak. Ajaklah berbicara dari hati ke hati. Besarkan hatinya dan tunjukkan bahwa ia sudah besar. Tumbuhkan pula kepercayaan pada anak. Sampaikan bahwa anak bisa menunggui adiknya, bisa membantu mengambilkan popok, dan seterusnya. Sampaikan apa yang menjadi tanggungjawabnya sebagai bentuk kepercayaan kita kepadanya. Bukan sebagai tuntutan yang membebani.


MENJELANG ADIK LAHIR

1. Beri Gambaran Sebelumnya
Sampaikan kepada anak beberapa hari sebelum hari perkiraan lahir tentang akan lahirnya adik. Beri gambaran kepadanya bahwa ibu akan berada di rumah sakit untuk beberapa saat. Kalau sudah bersalin nanti, ibu ingin ia menengok dan menemani ibu beserta adik agar adiknya bisa segera bertemu kakaknya. beri gambaran tentang situasi yang dihadapi di awal waktu.

2. Dekatkan Hatinya
Semakin mendekati kelahiran, Anda semakin perlu menunjukkan betapa asyiknya punya adik dan betapa adik sayang padanya. Tunjukkan bahwa adik nanti ingin bermain-main dengan kakaknya. Tetapi ceritakan juga bahwa di awal-awal lahir adiknya belum bisa melihat dan belum bisa bicara. Ini bahkan perlu kita sampaikan sedari awal.


SETELAH ADIK LAHIR

1. Adik Sayang Padanya
Saat-saat awal lahir, yang sangat penting untuk Anda tunjukkan adalah bahwa yang baru lahir itu adalah adiknya. Tunjukkan wajah gembira Anda ketika ia pertama kali muncul. "Itu kakak. Ini adiknya sudah nunggu. Adik ingin ketemu." Sampaikan bahwa adik sayang sekali padanya. Bukan sebaliknya, menyuruh agar ia sayang pada adiknya. Boleh saja kita menyampaikan pesan seperti itu, tapi setelah menunjukkan bahwa adik sayang padanya.

2. Tunjukkan Perhatian Dan Kerinduan
Setiap kali ada kesempatan yang leluasa, beri perhatian yang hangat kepada anak. Tunjukkan kerinduan Anda dan kerinduan adiknya kepadanya. Sehabis dimandikan, ketika bayi merasa tenang, Anda bisa panggil ia untuk berbaring di dekat bayi sehingga ia merasa dekat.

Sumber: Kolom Parenting, Majalah Suara Hidayatullah, Edisi 06/XXI/Oktober 2008

Kamis, 18 September 2008

Sistem Pembelajaran Dominan Otak Kiri


Sistem Pembelajaran Dominan Otak Kiri. Kelemahan dari sistem pembelajaran yang ada saat ini adalah belum diaktifkannya belahan otak kanan. Penggunaan otak kiri masih sangat dominan. Suasana pembelajaran di SD, misalnya, karena sudah dianggap lebih dewasa dari usia TK, maka dianggap tidak memerlukan gambar dan warna. Suasana dinding kelas dibiarkan berwarna suram tanpa hiasan, buku-buku pelajaran pun tidak lagi berwarna dan bergambar. Guru mengajar dengan banyak bercerita dan mendikte, sementara siswa hanya mendengar dan mencatat.

Orang tua dan guru merasa risih jika anak belajar sambil menggoyang-goyangkan kaki, dengan mulut yang terus menggumamkan senandung lagu, serta tangan yang tak henti-hentinya mencoret-coret gambar di kertas. Semua itu dianggap gerakan yang mengada-ada dan dikhawatirkan mengganggu konsentrasi anak.

Persepsi bahwa cara belajar yang baik harus selalu teratur, di kelas yang selalu sama, dengan bangku yang berbaris rapi, suasana harus sepi, pandangan harus tertuju pada guru, adalah menggambarkan ciri-ciri kerja otak kiri saja. Dan inilah yang selama ini kita kenal sebagai cara pembelajaran yang lazim ditemui, baik di rumah maupun di sekolah.

Dengan menciptakan “fun learning”, dominasi otak kiri ini akan kita dobrak. Ciri-ciri otak kanan harus mulai dimunculkan dan disinergikan dalam proses pembelajaran, sehingga mampu melejitkan kemampuan daya tangkap anak terhadap pelajaran yang diberikan. Maka, tak perlu ragu untuk menciptakan suasana belajar yang kreatif, penuh berbagai corak warna, dipadukan beragam permainan dan humor, berpindah-pindah tempat dan diiringi musik lembut mengalun.

Selasa, 16 September 2008

Keseimbangan Otak Kanan Dan Otak Kiri


Keseimbangan Otak Kiri Dan Otak Kanan. Penciptaan “fun learning” baru bisa tercapai jika orang tua dan pendidik memperhatikan pengelolaan otak kiri dan otak kanan. Teori pendidikan terbaru mengatakan, otak akan bekerja optimal apabila kedua belahan otak ini dipergunakan secara bersama-sama. Otak kanan memiliki spesifikasi berpikir dan mengolah data seputar perasaan, emosi, seni dan musik. Sementara otak kiri berfungsi mengolah data seputar numerik, sains, bisnis dan pendidikan.

Penggunaan sisi belahan otak kiri merupakan spesifikasi cara berpikir yang logis, sekuensial, linear dan rasional. Hal ini sangat tepat untuk memikirkan keteraturan dalam berekspresi secara verbal, tulisan, membaca, asosiasi auditorial, penempatan detil dan fakta, fonetik serta simbolisme.

Sementara cara berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistik. Ini mewakili cara berpikir non verbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.
Jika anak belajar dengan hanya menggunakan otak kiri, sementara otak kanannya tidak diaktifkan, maka akan mudah timbul perasaan jenuh, bosan dan mengantuk. Sebaliknya, mereka yang hanya memanfaatkan otak kanan tanpa diimbangi pemanfaatan otak kiri, bisa jadi ia akan lebih banyak menyanyi, mengobrol atau menggambar dan hanya menyerap sedikit ilmu dan pelajaran yang diberikan.

Maka, menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan otak kanan menjadi penting dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Caranya, dengan menyertakan paduan antara spesifikasi pekerjaan otak kiri dengan otak kanan. Mengerjakan PR dengan diiringi alunan musik, misalnya. Atau dengan menciptakan aneka gambar dan simbol yang memiliki arti khusus ketika menghafal pelajaran sejarah.

Keseimbangan Otak Kanan Dan Otak Kiri


Keseimbangan Otak Kiri Dan Otak Kanan. Penciptaan “fun learning” baru bisa tercapai jika orang tua dan pendidik memperhatikan pengelolaan otak kiri dan otak kanan. Teori pendidikan terbaru mengatakan, otak akan bekerja optimal apabila kedua belahan otak ini dipergunakan secara bersama-sama. Otak kanan memiliki spesifikasi berpikir dan mengolah data seputar perasaan, emosi, seni dan musik. Sementara otak kiri berfungsi mengolah data seputar numerik, sains, bisnis dan pendidikan.

Penggunaan sisi belahan otak kiri merupakan spesifikasi cara berpikir yang logis, sekuensial, linear dan rasional. Hal ini sangat tepat untuk memikirkan keteraturan dalam berekspresi secara verbal, tulisan, membaca, asosiasi auditorial, penempatan detil dan fakta, fonetik serta simbolisme.

Sementara cara berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistik. Ini mewakili cara berpikir non verbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi.
Jika anak belajar dengan hanya menggunakan otak kiri, sementara otak kanannya tidak diaktifkan, maka akan mudah timbul perasaan jenuh, bosan dan mengantuk. Sebaliknya, mereka yang hanya memanfaatkan otak kanan tanpa diimbangi pemanfaatan otak kiri, bisa jadi ia akan lebih banyak menyanyi, mengobrol atau menggambar dan hanya menyerap sedikit ilmu dan pelajaran yang diberikan.

Maka, menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan otak kanan menjadi penting dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Caranya, dengan menyertakan paduan antara spesifikasi pekerjaan otak kiri dengan otak kanan. Mengerjakan PR dengan diiringi alunan musik, misalnya. Atau dengan menciptakan aneka gambar dan simbol yang memiliki arti khusus ketika menghafal pelajaran sejarah.

Jumat, 12 September 2008

Belajar: Beban Atau Kegembiraan?


Belajar: Beban Atau Kegembiraan? Apakah “belajar” dirasakan sebagai hak atau kewajiban bagi anak atau murid Anda? Bisa jadi jawabannya akan berbeda antara anak yang satu dengan yang lain. Ada yang menganggap sebagai ‘hak’, karena dengan belajar itulah ia memperoleh kegembiraan dan keceriaan. Baginya, belajar sangat menyenangkan sehingga justru kehadirannya sangat ditunggu-tunggu dan kepergiannya membekaskan kesan yang indah dalam hati.
Sebaliknya, ada anak yang menganggap ‘belajar’ hanya sebagai ‘kewajiban’, yang justru ingin ia hindari karena ia tak ingin menghentikan permainan bersama teman-temannya. Bagi anak ini, belajar hadir sebagai beban yang harus ia kerjakan berdasarkan nilai kewajibannya. Ia tak memperoleh kepuasan ketika melaksanakannya, kecuali keinginan menyelesaikan tugas itu segera demi memperoleh hak bermain yang baru bisa ia peroleh setelah kewajiban belajar itu ia kerjakan.
Kedua anak tersebut bisa jadi melakukan hal yang sama, yaitu belajar, tetapi yang mereka peroleh jauh berbeda. Anak yang pertama menjadi giat belajar tanpa menunggu diperintah, tidak menunda-nunda untuk memperoleh haknya, bahkan sekuat tenaga ia akan berusaha mempertahankan haknya jika ada yang hendak menghalangi.
Lain halnya yang diperoleh anak yang kedua. Ia cenderung ingin menghindar dari belajar dan akan menunda sebisa mungkin. Jika proses belajar terhambat dan terhenti, itu akan menyenangkan bagi dirinya.
Perbedaan pokok yang membuat kegiatan belajar bisa dirasakan sebagai ‘hak’ atau ’kewajiban’ oleh anak adalah terletak pada perbedaan cara mengemasnya. Jika proses belajar dikemas dengan ‘fun’, menyenangkan, kreatif dan rekreatif, maka anak akan menganggapnya sebagai ‘hak’, karena melalui proses belajar tersebut ia dapat memenuhi kebutuhan bermainnya. Sementara proses belajar justru akan hadir sebagai beban manakala tidak mampu menghadirkan suasana kegembiraan yang dibutuhkan oleh anak.
Nah, tinggal kita para orang tua dan pendidik bertanya pada hati kecil kita, termasuk kelompok manakah anak dan murid kita?

Rabu, 10 September 2008

Penerimaan Yang Membangkitkan Kehebatan


Penerimaan Yang Membangkitkan Kehebatan. Penerimaan dan kepercayaan yang tulus dari orang tua kepada anak dapat melahirkan rasa percaya diri yang sangat besar, semangat yang luar biasa dan penerimaan diri yang bagus. Dari penerimaan yang tulus akan berkembang harga diri yang baik sehingga anak memiliki citra diri yang baik serta kemampuan mengendalikan emosi yang mantap. Semua ini pada akhirnya memberi sumbangan pada tumbuhnya keyakinan yang kuat untuk terus maju dan memperbaiki kemampuan dirinya.
Masalahnya, banyak orang tua yang merasa telah memberikan penerimaan dan kepercayaan yang tulus kepada anaknya, tetapi si anak selalu lari dari rumah dan prestasinya sangat rendah. Apa yang salah dengan semua ini?
Jawabannya adalah cara kita mengkomunikasikan penerimaan dan kepercayaan.
Cara mengkomunikasikan masalah sangat berpengaruh terhadap efek yang ditimbulkan. Maksud baik tanpa disertai cara komunikasi yang baik dapat menyebabkan tujuan tidak tercapai, bahkan hancur berantakan.
Lalu, bagaimana cara mengkomunikasikan penerimaan yang tulus?
Banyak peluang untuk menunjukkan penerimaan yang tulus kepada anak dan umumnya justru cara-cara yang menjadi kunci penerimaan itu sangat sederhana dan sepele. Misalnya, berikanlah senyuman pada anak saat ia meraih prestasi, sekecil apa pun prestasi itu. Jika anak berbicara, meskipun “tidak berisi”, dengarkanlah dengan penuh perhatian dan senyuman yang hangat. Jika orang tua mendengarkan anak secara aktif, memberi kehangatan, dan bila perlu belaian saat dia gagal memperoleh prestasi, orang tua sudah memberi penerimaan yang baik.
Kesimpulannya, jika kita ingin melahirkan kemandirian, keunggulan dan kedamaian dalam keluarga, salah satu kuncinya adalah penerimaan yang hangat dan tulus. Penerimaan itu tidaklah dirasa sebagai penerimaan yang tulus apabila cara kita mengkomunikasikan tidak tepat. Jadi, terimalah anak kita dan komunikasikan dengan sebaik-baiknya.

Selasa, 02 September 2008

Hadiah Dan Hukuman: Metoda Perantara

Hadiah Dan Hukuman: Metode Perantara. Metode pemberian hadiah dan hukuman boleh diterapkan untuk memotivasi anak agar mau berbuat baik. Namun yang penting dipahami bahwa metode ini bukan satu-satunya metode yang menjadi pilihan bagi orang tua. Bukan pula metode terbaik. Hal ini disebabkan karena metode ini masih memiliki ketergantungan pada faktor eksternal, yaitu pada hadiah dan hukuman itu sendiri.
Ada metode lain yang lebih baik, yaitu ketika anak mau memperbaiki kepribadiannya atas dasar kesadaran diri dan motivasi yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Hal ini biasa disebut motivasi intrinsik. Metode ini jauh lebih baik karena tidak memiliki ketergantungan terhadap faktor eksternal, sehingga anak lebih mudah mengelola dirinya sendiri kapan saja dan di mana saja.
Sementara metode pemberian hadiah dan hukuman sebaiknya dijadikan metode perantara saja dalam rangka menumbuhkan motivasi intrinsik pada diri anak. Ketika metode intrinsik sudah muncul pada diri anak, metode pemberian hadiah dan hukuman ini bisa diakhiri.
Oleh sebab itu, pemberlakuan metode hadiah dan hukuman ini harus direncanakan target masa berakhirnya. Sementara orang tua dan pendidik mempelajari cara-cara menumbuhkan motivasi intrinsik ini, agar dapat menerapkannya sedikit demi sedikit bersamaan dengan metode hadiah dan hukuman ini.
Walaupun hanya sebagai metode perantara, metode hadiah dan hukuman ini banyak dimanfaatkan oleh orang tua karena relatif lebih mudah dilakukan dan lebih cepat menampakkan hasil dibandingkan metode penumbuhan motivasi intrinsik.

Sehari Bersama Ayah

Sehari Bersama Ayah. Berapa kalikah dalam sebulan, para ayah meluangkan waktu barang sehari bersama anak-anaknya? Jawabannya pasti beragam. Lalu, seberapa besar frekuensi kebutuhan anak berinteraksi aktif dengan ayahnya?
Secara ideal, interaksi ayah dengan anak memang tidak bisa didefinisikan secara kaku. Seorang ayah yang tinggal di rumah seharian bersama anaknya, tetapi tidak menjalin komunikasi efektif, bisa jadi kualitasnya sama dengan pertemuan yang hanya setengah jam di pembaringan sambil membacakan buku cerita pengantar tidur.
Efektivitas pertemuan ayah dan anak berpulang pada pribadi masing-masing sang ayah. Ada ayah yang memiliki tipe pasif alias kurang pandai berkomunikasi. Lebih banyak diam, hanya menjawab sekadarnya bila ditanya. Maka, solusi praktis untuk ayah semacam ini adalah memperpanjang waktu kebersamaan bersama anak. Pilih kegiatan yang cukup menarik walaupun tanpa memerlukan komunikasi terlalu banyak. Misalnya, memotong rumput di kebun, membuat kandang ayam, rekreasi ke taman ria atau silaturahim ke rumah famili.
Sebenarnya, apa yang dibutuhkan anak dari seorang ayah? Jawabannya adalah figur ayah. Konsep anak tentang sosok ayah tak jauh dari peran ayah dalam keluarga, interaksi sosialnya kepada ibu dan anak-anaknya. Sehingga anak mampu mencetaknya dalam memori sebagai figur ayah yang ia pahami selamanya. Terlebih bagi anak laki-laki. Ia harus memperoleh contoh terbaik dari figur ayah ini, karena kelak baik secara sadar maupun tidak, ia akan meneladani karakter ayah dalam menjalani kehidupan bersama istri dan anaknya.
Akan lebih efektif jika seorang ayah mampu memberikan apa yang belum diberikan ibu kepada mereka. Melengkapi kekurangan ibu, maksudnya. Permainan fisik, jalan-jalan ke sawah, lomba lari, sepak bola, atau berkebun merupakan hal-hal yang tidak diperoleh dari ibu tapi bisa diperoleh dari ayah.
Bekal yang wajib dibawa ayah saat mendampingi anak adalah sabar. Untuk yang satu ini, lebih baik menyediakan kesabaran yang tiada habisnya. Sebuah resep yang bagus untuk bisa bersabar adalah kemauan secara totalitas untuk masuk ke dunia anak. Tinggalkan semua beban pikiran dan pekerjaan. Niatkan untuk meluangkan waktu sepenuhnya untuk anak.
Sisihkan waktu 10-15 menit sehari untuk berkomunikasi secara efektif dengan anak. Hal ini akan tetap bermanfaat dan membekas di hati anak hingga dewasa kelak.

Kamis, 14 Agustus 2008

Mandiri Bekal Masa Depan

Mandiri Bekal Masa Depan. Dalam masyarakat yang penuh persaingan sekarang ini, sukses tidak bisa diraih begitu saja. Banyak sifat pendukung kemajuan harus dibina sejak kecil. Salah satu di antaranya adalah kemandirian.
Membimbing anak untuk mandiri tidak lain ialah mengembangkan kreativitasnya untuk berbuat sesuatu sendiri. Bukan menghambat kreativitasnya dengan bermacam-macam larangan yang timbul karena kekhawatiran kalau-kalau anak itu bakal celaka, mengganggu lingkungan, atau ‘membuat malu’ keluarga karena ketidakmampuannya.
Intervensi langsung oleh orang tua tidak akan membuat anak mandiri. Kalau memang sudah mampu mengerjakan sesuatu (walaupun tidak sempurna), ia harus kita biarkan melakukannya sendiri. Kalau belum mampu, ya kita ajari dia dengan melakukannya bersamanya. Bukan kita lakukan sendiri (untuk dia), sedang anak kita suruh duduk diam menjadi penonton yang manis.
Persoalan yang paling sulit dalam usaha memandirikan anak adalah bagaimana mengubah pandangan kita (orang dewasa) mengenai kebutuhan anak. Kita terbiasa melayani anak sampai lupa bahwa anak mestinya diajari bagaimana melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya dengan kemauan dan kemampuan sendiri.
Untuk mengajari anak agar dapat makan sendiri, mengerjakan PR sendiri, memang jauh lebih banyak memerlukan kesabaran dan keterampilan daripada hanya menyuapi, memakaikan sepatu dan membuatkan PR anak. Padahal mereka justru memerlukan bimbingan, bukan pelayanan.
Namun, banyak orangtua merasa kasihan dan tidak tega melihat anaknya mengerjakan segala sesuatu sendiri, padahal anak itu sudah mampu. Sebenarnya, kita justru harus lebih kasihan pada anak yang serba dilayani dan tidak diajari melakukan sesuatu sendiri. Anak itu tidak bisa mandiri dan selalu tergantung pada orang lain. Ia akan terhambat perkembangannya untuk mandiri dan mencapai kebebasannya sebagai manusia dewasa di kemudian hari. Gara-gara kita, orang tuanya, kasihan dan tidak tega!
Bimbingan kepada anak untuk menjadi mandiri, sebenarnya sudah harus dimulai dari lingkungan keluarga. Tidak hanya berupa pemberian kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai kepribadian masing-masing (seperti bakat, minat, kebutuhan dan kecakapan), tapi juga bimbingan karir yang serasi dengan minat dan kemampuannya yang memberi kepuasan lahir dan batin.
Namun, sekarang banyak terjadi dalam keluarga dimana ke dua orangtua bekerja, perawatan dan pengawasan anak diserahkan kepada baby sitter, pengasuh atau malah pembantu rumah tangga. Akibatnya, anak tidak diberi bimbingan, tapi hanya pelayanan. Padahal anak memerlukan bimbingan yang seharusnya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sadar direncanakan dengan tujuan yang akan dicapai. Pembimbing harus mampu bertindak sebagai pendorong semangat, pemberi nasihat dan menjadi teladan yang patut dicontoh. Melihat peran pembimbing yang demikian, sungguh sulit membayangkan bagaimana hasilnya nanti, kalau bimbingan anak hanya diserahkan kepada pengasuhnya.
Lalu, bagaimana jalan keluarnya jika ke dua orangtua bekerja?
Yang lebih berpengaruh dalam pembimbingan anak adalah intensitas perhatian orangtua, bukan lamanya menunggu anak di rumah. Yang penting kualitas pertemuannya, bukan kuantitasnya. Boleh saja kita mempercayakan pengasuhan pada orang lain, tapi perhatian yang besar dan afeksi (kasih sayang) terhadap anak harus ditunjukkan dengan tulus. Tidak baik kalau orang tua setiba dari kantor dan anaknya meminta perhatian, kemudian dijawab, “Wah, Mama capek sudah kerja seharian! Mau istirahat!”. Kemudian anak disuruh main bersama pengasuhnya lagi.

Minggu, 10 Agustus 2008

Metoda Baru Menghafal Asmaul Husna

Metoda Baru Menghafal Asmaul Husna. Hampir semua sekolah berbasis Islam mengajarkan hafalan Asmaul Husna kepada murid-muridnya. Metoda yang paling banyak digunakan saat ini disebut Metoda Behaviouristik, yaitu metoda menghafal dengan cara mengulang-ulang sesering mungkin hingga hafal di luar kepala (pembiasaan). Oleh karena itu, metoda ini biasanya dipraktekkan setiap hari dengan jalan dilagukan untuk memudahkan menghafal.
Metoda ini ternyata memiliki kelemahan, antara lain:
1. Membutuhkan lebih banyak waktu, tenaga dan pikiran
2. Hanya menghafal urutan kata (sekuensial) dan bersifat logis/rasional
3. Mengandalkan kerja otak kiri yang bersifat Short Term Memory (Memori Jangka Pendek) yang hanya bisa bertahan 6 jam
4. Hasilnya variatif karena daya konsentrasi tiap anak berbeda
5. Implementasi/pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalam Asmaul Husna kurang karena tidak tahu artinya.
Alhamdulillah, saat ini telah ditemukan metoda baru menghafal Asmaul Husna yang disebut Metoda Konstruktivisme. Metoda yang diperkenalkan oleh Drs. Hanifuddin Mahadun, M.Ag. dan Dra. Ida Hanif Mahmud, M.Pd.I. dari Jombang ini membantu untuk menghafal Asmaul Husna beserta nomor urut dan artinya secara acak (tidak urut).
Dibandingkan metoda Behaviouristik, Metoda Konstruktivisme ini lebih banyak menggunakan fungsi otak kanan yang bersifat imajinatif dan visual. Daya kerja otak kanan ini ternyata jauh di atas daya kerja otak kiri, yaitu 1600-3000 kali lipat. Sehingga tak heran jika Asmaul Husna sangat mudah dihafal dan lama mengendap dalam memori (sulit lupa). Hal ini tentu akan mempermudah implementasi atas nilai-nilai yang terkandung karena faham Asmaul Husna beserta artinya.
Selain digunakan untuk menghafal Asmaul Husna, metoda ini juga dapat diterapkan untuk menghafal nama-nama surat dalam Al Qur’an beserta arti, jumlah ayat dan kandungan isinya, serta menghafal juz amma (juz 30) beserta nomor ayat dan artinya. Bahkan metoda ini dapat digunakan untuk menghafal pelajaran umum, seperti rumus-rumus kimia dan matematika, kamus bahasa, ringkasan pengetahuan umum lengkap (RPUL) dan lain-lain.

Selasa, 05 Agustus 2008

Peran Orang Tua Dalam Membentuk Budaya Ilmiah

Peran Orang Tua Dalam Membentuk Budaya Ilmiah. Fasilitas penunjang pendidikan dalam keluarga Islam telah tersedia. Berikutnya adalah pembentukan budaya ilmiah dalam rumah. Maksudnya, pembentukan perilaku dan pembiasaan dari anggota-anggota keluarga yang menunjang visi pendidikan. Beberapa di antaranya adalah:
a. Budaya Islami
Satu-satunya cara terbaik untuk memberikan pendidikan keimanan dan nilai-nilai moral adalah dengan teladan langsung. Maksudnya, akan sangat mudah diajarkan jika orang tua langsung mempraktekkannya. Sehingga anak akan secara langsung mencontoh tanpa harus banyak memberi nasihat. Jadi, tak ada alasan untuk melimpahkan urusan pendidikan keimanan ini ke tangan pihak sekolah semata.
b. Budaya belajar
Yang harus belajar bukan hanya anak-anak. Justru orang tua yang perlu memberikan teladan. Orang tua harus menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka pun gemar belajar. Gairah orang tua inilah yang akan dicontoh anak. Sehingga, tanpa disuruh pun, anak akan senang belajar.
c. Jam Baca
Tujuan penetapan jam baca ini untuk menumbuhkan minat baca anak. Itu sebabnya harus dihindari pemaksaan. Beri kesempatan anak untuk memilih buku yang akan mereka baca. Konsekuensinya, harus ada fasilitas buku-buku yang memadai.
d. Gairah Cerita
Sudahkah Anda membacakan cerita kepada anak setiap hari? Kegiatan ini memiliki manfaat yang besar sekali. Sebagai wahana meluaskan cakrawala berpikir anak, sebagai media bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai moral, meningkatkan kecintaan anak terhadap buku, dan memelihara rasa keingintahuan mereka.
e. Gairah Rasa Ingin Tahu
Menumbuhkan budaya ingin tahu di dalam rumah adalah penting sekali. Rasa ingin tahu anak akan terpancing jika mereka menerima informasi yang menarik. Dengan kesabaran orang tua untuk terus menjawab pertanyaan anak, memancingnya dengan pertanyaan baru, inilah yang akan mempertinggi gairah rasa ingin tahu anak.

Senin, 04 Agustus 2008

Fasilitas Pendidikan Dalam Keluarga Islam

Fasilitas Pendidikan Dalam Keluarga Islam. Pendidikan dalam keluarga Islam tidak pernah bisa terlepas dari tanggung jawab orang tua. Lembaga pendidikan hanya berperan sebagai partner pembantu. Tugas orang tua ini akan sangat terdukung jika mampu menciptakan suasana rumah menjadi tempat tinggal sekaligus basis pendidikan. Ada banyak cara untuk melakukannya.
Salah satunya adalah dengan melengkapi fasilitas pendidikan yang menunjang atmosfir belajar. Pengadaan fasilitas penunjang pendidikan haruslah menjadi prioritas utama dalam rumah tangga Islam. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain:
a. Tempat Belajar yang Menyenangkan
Kalau bisa, harus ada tempat belajar khusus untuk masing-masing anak. Seperangkat meja kursi sederhana dilengkapi dengan rak buku sudah bisa diciptakan sebagai meja belajar. Beri kebebasan serta tanggung jawab kepada mereka untuk mengurusi meja belajar masing-masing. Yang perlu diingat, peran orang tua diperlukan agar tempat belajar ini tetap menyenangkan bagi anak. Bantulah mereka mengurusnya sesekali untuk memberikan pengarahan yang benar.
Semakin baik dan menarik keberadaan fasilitas pendidikan, anak akan merasa bahwa kegiatan belajar adalah satu hal yang istimewa dalam keluarga. Selanjutnya, ini akan memacu motivasi belajarnya.
b. Media Informasi
Ilmu pengetahuan tak bisa dilepaskan kaitannya dengan media informasi. Karena dari sinilah sebagian besar ilmu pengetahuan akan diperoleh. Media ini bisa berupa televisi, radio, komputer, buku dan majalah.
Informasi yang disediakan oleh media tidak semuanya dibutuhkan oleh anak. Itu sebabnya, tindakan seleksi perlu dilakukan orang tua. Informasi yang bersifat hiburan boleh diberikan hanya sebatas sebagai refreshing, tidak berlebihan.
c. Perpustakaan
Untuk menumbuhkan motivasi pendidikan anak, buku adalah sarana yang paling tepat. Kecintaan anak terhadap buku mutlak harus ditumbuhkan sedini mungkin. Dan rumah adalah tempat yang paling cocok untuk keperluan itu. Alhamdulillah jika di dalam rumah bisa disediakan tempat untuk perpustakaan mini.

Perlukah PR?

PERLUKAH PR ? Sebagian orang tua tidak setuju, bahkan di sekolah-sekolah berpredikat full day, guru pun membatasi pemberian PR. Karena anak terlampau lelah di sekolah dan waktu di rumah semestinya digunakan untuk menjalin kebersamaan dalam keluarga. Di sisi lain, ada juga orang tua yang mengharapkan guru memberikan PR. Kalau nggak ada PR, anak tidak mau belajar, demikian dalihnya.
Perlu tidaknya pemberian PR, banyak sedikitnya jumlah soal yang diberikan, bisa jadi tidak sama antara anak satu dengan yang lain, walaupun mereka satu kelas sekalipun. Kebutuhan anak akan PR memang spesifik, tergantung beberapa faktor. Di antaranya, tentunya, kemampuan anak dalam menerima pelajaran.
Dari tujuan pemberiannya, PR dapat dibedakan menjadi 2 tujuan, yaitu tujuan remedial (pengulangan untuk meningkatkan kemampuan) dan tujuan pengayaan (perluasan bahasan tema pembicaraan). Tujuan remedial diberikan pada anak yang kemampuannya tertinggal dari target pembahasan pelajaran di kelas, sementara pengayaan diberikan kepada anak yang telah mampu menyelesaikan target pembelajaran sebelum habis batas waktu pembahasannya.
Karena untuk mengejar ketertinggalan, tujuan remedial memiliki bobot kepentingan yang lebih besar daripada tujuan pengayaan, sehingga adanya PR dianggap cukup penting. Sementara PR dengan tujuan pengayaan tidak harus dipaksakan jika ada kegiatan lain yang lebih penting bagi anak untuk mengisi waktunya di rumah.
Sayangnya, dalam pelaksanaannya pemberian PR lebih banyak menggunakan sistem “gebyah uyah”, menyamaratakan kebutuhan tiap anak tanpa mempertimbangkan faktor kemampuan anak. Akibatnya, tujuan PR hanya sebatas sarana mengulang pelajaran yang telah dibahas di sekolah atau persiapan materi yang akan dipelajari mendatang. Tentu ini menjadi “PR besar” bagi institusi pendidikan yang menginginkan peningkatan mutu pendidikan di lembaganya.
Hal lain yang penting diperhatikan dalam pemberian PR adalah kualitasnya. Jika terlalu sulit dan pengerjaannya memakan waktu lama, tentunya kurang tepat dijadikan PR karena akan menimbulkan tekanan pada anak. Efek berikutnya, malah menjadikan anak malas belajar. Belum lagi jika ditambah dengan omelan ibu atau bapak. Yang diperlukan anak saat mengerjakan PR justru dukungan orang tua. Tidak ada salahnya ibu atau bapak sekali waktu secara bergantian ikut menemani anak yang sedang mengerjakan PR.
Tapi harus diingat bahwa menemani anak mengerjakan PR bukan berarti orang tua yang mengerjakan soalnya, anak yang menulis jawabannya. Orang tua cukup mengarahkan cara menyelesaikan soal dengan benar, setelah itu biarlah anak yang menuntaskannya secara mandiri. Jawaban orang tua yang ditulis anak tentu jauh berbeda dengan jawaban yang murni dikerjakan anak.