Jumat, 16 Desember 2011

A True Life Story Of A Single Mom (Part 2)

Segera setelah mendapat berita bahwa Ita mengalami kecelakaan lalu lintas, aku berangkat ke Bali dengan perasaan tak menentu. Sesampai di rumah sakit, aku lemas melihat kondisi anakku. Kecelakaan yang dialami Ita dan teman prianya rupanya sangat parah. Teman prianya mengalami patah tulang di beberapa tempat. Dan, Ita mengalami gegar otak yang cukup berat akibat benturan dengan jalan raya sehingga ia tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama. Seluruh bagian kepalanya dibalut perban. Seketika aku meneteskan air mata. Ya Allah, sedemikian berat cobaan yang Engkau berikan kepada hamba-Mu yang lemah ini.

Kepada tim dokter yang menangani Ita, aku meminta agar sesegera mungkin setelah kondisinya memungkinkan untuk memindahkan Ita ke rumah sakit di Surabaya. Perawatan dan penyembuhan Ita akan memakan waktu lama. Tidak mungkin aku meninggalkan anak bungsuku terlalu lama di Kediri. Sedangkan meminta bantuan Andri juga tidak mungkin karena posisi kerjanya di Papua. Yang membuat aku sedikit bernafas lega, seluruh biaya pengobatan selama di Bali ditanggung keluarga teman pria Ita. Satu hikmah luar biasa yang aku dapatkan dari peristiwa ini adalah berakhirnya hubungan Ita dengan teman prianya itu. Ya Allah, berulang kali aku menangis di hadapan-Mu pada malam-malam sunyi, memohon untuk diberi jalan yang terbaik untuk Ita, rupanya Kau beri hikmah terbaik melalui jalan ini.

Akhirnya, Ita bisa dipindahkan ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Masih dalam kondisi koma. Hari demi hari kulalui dengan penuh kesabaran menunggu putriku kembali sadar. Keadaan Ita terus membaik hingga pada suatu hari terjadi perkembangan yang menggembirakan. Ita menunjukkan tanda-tanda sadar! Kesadaran Ita pun aku tunggu dengan harap-harap cemas. Banyak pertanyaan dan bayangan buruk berlintasan dalam pikiranku mengingat beratnya gegar otak yang dialaminya. Akankah Ita masih mengingat aku, ibunya? Seberapa banyak sisa memorinya yang tertinggal? Akankah Ita seperti orang bengong yang kehilangan akal? Ya Allah, aku pasrah kepada-Mu. Aku yakin Engkau akan memberikan yang terbaik bagi Ita dan aku.

Begitu Ita sadar penuh dan mulai bisa bicara, syukur yang pertama dan kedua aku panjatkan kepada Allah. Syukur yang pertama adalah karena Ita masih bisa berbicara, tidak kehilangan kemampuan bicaranya. Syukur yang kedua adalah karena Ita tidak kehilangan kemampuan berbahasa Inggrisnya. Ya, begitu bisa berbicara, yang keluar dari mulutnya adalah percakapan dalam bahasa Inggris. Ita malah lupa bahasa Indonesia. Subhanallah walhamdulillah! Syukur yang ketiga dan ke empat kembali aku panjatkan kepada Allah saat aku ajukan dua pertanyaan kepada Ita, "Nduk, siapa namamu? Aku siapa?" dan Ita menggelengkan kepala. Subhanallah walhamdulillah! Ita lupa siapa namanya dan tidak mampu mengingat bahwa aku ibunya.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari penuh haru biru, kadang juga lucu. Aku mengajarkan segala sesuatu kepada Ita sebagaimana mengajarkan hal-hal baru kepada anak kecil. Mulai dari mengenalkan bahwa aku ibunya, mengajarkan nama-nama benda dan kata-kata kerja, tata cara makan, minum, mandi, gosok gigi, buang air besar, buang air kecil dan lain sebagainya. Sewaktu mengajari Ita cara menyuapkan nasi ke dalam mulut, sendok yang sudah dipegang di depan mulut pun bisa meleset ke arah pipi. Rupanya syaraf motoriknya belum berfungsi secara sempurna.

Makin hari kondisi Ita makin membaik. Ingatannya pun berangsur-angsur pulih. Masalah lain yang muncul berikutnya adalah biaya perawatan Ita. Tentunya bisa dibayangkan berapa besarnya biaya perawatan selama berminggu-minggu di rumah sakit, sedangkan pekerjaanku sebagai penjahit berhenti total untuk mendampingi pemulihan kondisi Ita. Satu-satunya jalan yang bisa aku tempuh adalah meminjam uang dari saudara-saudaraku. Alhamdulillah, mereka sangat prihatin dengan kondisi Ita dan bersedia mengulurkan tangan. Segala puji hanya untuk-Mu, Allah, yang telah membukakan pintu hati mereka untuk membantu kami walaupun mereka tahu aku tidak mungkin mampu mengembalikan bantuan mereka.

Sekarang saatnya bagiku untuk membalas jasa mereka dengan tenagaku.

(Kisah akan berlanjut ke A True Life Story Of A Single Mom (Part 3))

Tidak ada komentar: